Bocah kecil berkaos Che Guevara

Disini saya ndak akan bercerita tentang Che Guevara sang revolusioner, ataupun Che che Kirani yang artis itu . Saya kagum ke Che sama seperti kegaguman saya terhadap Bob Marley, mereka ini sama- sama menghantam tirani penindasan dengan cara masing-masing, yang satu lewat syair-syair reggae musiknya dan satunya lagi lewat perjuangan revolusioner . Hanya sedikit yang saya ketahui tentang kedua tokoh ini, jadi saya ndak akan berpanjang lebar menceritakannya digampar orang yang lebih tahu malah . Che che Kirani kok saya juga sebut tadi, kalo itu andapun tahu……

Kembali ke habitat…
Saya akan bercerita mengenai seorang bocah umur 10 tahun yang saya temui di pangkalan ojek disebelah kanan lampu merah, dibawah baleho besar, menunggu hujan reda selepas pulang kerja . Jam 7 malaman WJTGS (Waktu Jam Tangan Saya) . Akhir-akhir ini memang sering banget hujan dikotaku yg akan mulai kucintai ini . Jadi sebagai bukan pengguna kendaraan pribadi harus rela cari tempat berteduh dulu bila hujan tiba-tiba datang dan kalo bawa payung masak badan penuh tato gini pake payung . Seperti juga sebelum-belumnya, aku menerima dengan ikhlas bila sepulang kerja ditengah menunggu angkot, perut lapar, battery Ipod habis, dan hujan deraspun turun…ikhlas saya…grrrgghh . Kembali ke bocah kecil umur 10 tahun yang mengenakan kaos bergambar Che Guevara dengan tumpukan koran sore berbungkus plastik transparan disampingnya dengan tangan merangkul kedua kakinya . Kok saya jadi trenyuh, kok hati saya jadi melow, dan jiwa ini kok tersobek-sobek jadinya . Jadi ingat keponakan saya yang seumuran bocah itu, bila hujan deras sedingin ini tentunya keponakan saya hangat dipelukan ibunya, atopun kalo masih terjaga tentu ia sedang main Game PS kegemarannya, tanpa memikirkan harus makan apa besok, tanpa bersusah-susah mencari uang untuk menyambung hidup . Sedang bocah kecil yang saat ini didepanku harus rela mengorbankan masa-masa bermainnya untuk membantu menopang hidup keluarga yang seharusnya bukan sebagai kewajibannya . Saat anak-anak yang laen masih merengek takut pada gelap malam dia begitu akrab dengan debu dan getirnya malam menjemput sedikit laba dari koran yang dijualnya . Yaa bocah kecil itu ada didepanku sekarang .

“Hey, gimana boss lakunya banyak korannya?” tanyaku berakrab-akrab .
“Payah om, mana ada orang membuka kaca mobilnya untuk membeli koran ditengah hujan sederas ini.” jawabnya acuh tak acuh .
“Tinggal dekat sini?”
“Dulu sih iya om, ruli (rumah liar) dibelakang pos Polisi yang sekarang jadi bangunan hotel tapi sekarang tinggalnya agak jauhan, sekitar 5 km dari sini tetep diruli juga om.” Tangan kecilnya menunjuk kearah rumah barunya . Matakupun ikut kearah telunjuk tangannya, gelap ngak nampak apa-apa, tapi kepalaku mengangguk-angguk seakan tahu .

“Saya dirumah tinggal bersama bapak dan emak serta 2 adik kecil, bapak saya kerja serabutan dan sekarang lagi nganggur dirumah, emak sih dulu pernah kerja di Pabrik elektronik jadi operator tapi udah di PHK, kata emak umur emak ngak produktif lagi jadi tenaga emak digantiin tenaga yang lebih muda . Enak om waktu emak dulu masih kerja di PT tiap habis gajian kita bareng-bareng makan bakso diwarung deket pasar , tapi sekarang jangankan makan bakso untuk besok pagi bisa makan tempepun udah untung.” tanpa saya tanya dia curhat tentang keadaannya .

“Oh ya, sapa namamu?”
“Ubit om, kata bapakku namaku ngak ada artinya tapi kependekan dari Untuk Bangsa Indonesia Tercinta.. :) .” tersenyum sambil ngliatin gigi ompongnya .
“Bagus tuh namanya, unik dan bapakmu nasionalis sampai nyerahin anaknya ke bangsa Indonesia.”
“Iya diserahin jadi tumbal jalanan Indonesia.” ada nada marah dikata-katanya ini, aku ngak akan menambah-nambahi kemarahannya dengan pertanyaan yang prokofokatif lagi . Hujan kali inipun sudah membuatnya sedikit marah.

“Ubit sekolah?” tanyaku berbaringan kilat yang membelah langit, terang sejenak bumi sekitar .
“Untuk apa sekolah ? Untuk dihina temen karena pakaianku ngak sebagus punyanya, untuk diolok-olok temen karena ngak mampu beli buku pelajaran, dan dibikin malu Kepala sekolah ngak boleh ikut ujian karena belum bayar SPP, saya cuman bisa baca selebihnya saya dibikin tidak berarti hanya karena saya miskin , dan bila uangnya hanya untuk saya sekolah saja, bapak, emak dan adik-adik makan apa.Dapatkah kenyangkah mereka dengan saya sekolah ?”
Moudarr cocotku Aku tercekat ngak bisa menjawab atoupun mau bertanya apalagi, aku diam aja dihadapan bocah kecil yang berumur 10 tahun itu .
“Dan saya bisa belajar disini om, dijalanan di antara laju kendaraan saya belajar.Dengan Mas pengamen itu saya belajar menantang hidup . Dengan Kakek pengemis itu saya belajar untuk tidak menangisi nasib . Dengan Budhe penjual jamu yang biasa mangkal disini saya belajar bersabar menerima keadaan . Dengan Pakdhe penjual soto itu saya belajar Ikhlas menerima takhdir dan juga oleh mas-mas berpotongan rambut aneh berwarna merah itu saya diajari untuk kuat bila dicaci dan jangan mau untuk dikasihani .”

Heran..bocah kecil itu mungkin juga belajar gimana membuat pikirannya menjadi dewasa melampui umur jasadnya . Atau jangan-jangan..kulirik kakinya nempel tanah ngak ya….ternyata masih nempel :) . Saya yang mengakunya pernah seakan bersekolah bertahun-tahun tak bisa ngomong-ngomong apa-apa dihadapan bocah kecil berkaos Che Guevara yang bernama Ubit . Saya ditelanjangi kali ini . Ternyata ngak cukup dengan rasa kasihan, rasa iba ke Ubit , ada yang harus dilakukan kepada ubit dan juga ubit-ubit yang laen . Saya sangat malu karena belum bisa berbuat-buat apa-apa .

“Bit, kamu ngak pulang? Hujan sudah reda, aku pulang dulauan.” tanyaku sambil berpamitan .
“Saya belon om, khan masih jam kerja, nanti saya akan pulang setelah koran saya habis, ato minimal ada uang untuk makan besok.”

Akupun berjalan keseberang jalan untuk mencari angkot untuk pulang .

“Om…..HASTA LA VICTORIA SIEMPRE !!!” pekiknya menantang malam .

50 Tanggapan ke “Bocah kecil berkaos Che Guevara”


  1. 1 Liexs September 3, 2007 pukul 12:05 pm

    kapling pertamaxx takut keduluan almas,bacanya ntar isya’ dulu.

  2. 2 Liexs September 3, 2007 pukul 3:15 pm

    nice posting, bikin haru Mas, bener.
    Memang banyak sekali di luar sana bocah-bocah seperti itu. Ketika kita melihatnya, tidak jarang tak sesuatupun yang dapat kita lakukan, trenyuh…hanya trenyuh.
    Saat kita berfikir akan makan apa untuk besok pagi, di sana banyak anak-anak seperti ubit berfikir bisa makan atau tidak besok pagi.
    Itulah kenyataan hidup, paling tidak hati kita masih tersentuh ketika kita menemui anak-anak seperti ubit.
    Itu menandakan bahwa dalam hati kita masih terdapat rasa kemanusiaan.
    Pesan buat ubit kalau ketemu:
    Pelajari koran yang dia jual, apapun itu. Suatu saat pengetahuan yang dia dapat tidak melalui bangku sekolah akan membawanya menjadi Ubit yang melebihi anak-anak yang mengenyam pengetahuan di bangku sekolah.

  3. 3 almascatie September 3, 2007 pukul 3:27 pm

    2: pertamax… silahkan
    *masih tahlil jadi ga sempet kapling*
    :mgreen:

  4. 4 almascatie September 3, 2007 pukul 3:31 pm

    :(
    belom bisa comment nanti balik lagi’
    *penyakit ngantuk datang jadi ga serius baca iks *

  5. 5 regsa September 3, 2007 pukul 4:17 pm

    # Mas Lieks 1 n 2
    Blogku ini belum layak untuk berebut pertamax… :)
    Dan saat ini cuman bisa merasa kasihan juga respect tehadap ubit-ubit yang hidup dijalan ini . Padahal saya tahu dia ngak membutuhkan rasa kasihan atopun rasa iba dari saya . Mereka membutuhkan dari sekedar itu .
    Saya belom bisa seperti sampeyan untuk menjadi orang tua asuh bagi mereka, dia perlu bersekolah untuk menggapai cita2nya . Saya yakin orang2 seperti ubit ini bila bersekolah akan bener2 bersekolah .

    *pas njawab coment pake celana kain sama baju hem kotak-kotak* jawaban disesuaikan cara berdandan…kakakaka

    # Almas
    Selamat akhirnya Allah memberi jalan terang untuk anda berTahlil.. :)
    Tapi Tahlil sambil ngeBlog plus Ngantuk..ato gimana?
    Moga2 jangan…wakakaka

  6. 6 Liexs September 3, 2007 pukul 4:48 pm

    ternyata denmase Regsa bisa serius juga.kekekeke.
    Yach mumpung ada sedikit rizki yang memang untuk mereka mas, itupun masih sebatas SD sampe SMP, mudah-mudahan sampe juga SMU selesai. Untuk sampai kuliah belum sempat terpikirkan.(gak mampu: mode on )
    2:alma
    Hebaaaat……sungguh mulia hatimu mas Almas, pas ngeblog-pun sempat tahlil.(atau kebalik…?)

  7. 7 regsa September 3, 2007 pukul 4:56 pm

    #Mas lieks
    Jawaban khas priyanyi Njogja,..lembah manah..andap asor
    Kalo butuh anak asuh saya juga mau mas…:)..tapi kalo saya tepatnya bukan anak asuh kali..tapi anak a###
    kekeke ( mulai kumat lagi thooo…alah susah direm)

  8. 8 almascatie September 3, 2007 pukul 5:32 pm

    2:LIexs dan Regsa
    Perhatian Jangan Diikuti diRumah!… BERBAHAYA!!
    *angkat sarung ama kue sepiring ngacir*

  9. 9 tiar September 3, 2007 pukul 11:20 pm

    itu bocah jenius!!!!

    mbok dibeli semua koranya , piye tho. kan kasiyan

  10. 10 Toga September 4, 2007 pukul 6:03 am

    Melihat kenyataan seperti itu, rasanya malu pernah mengeluh, pernah merasa tak mendapat keadilan, pernah merasa pantas jadi manusia.

    :( (

  11. 11 may September 4, 2007 pukul 9:01 am

    reg, kemampuanmu mengolah kasus dalam pengandaian yang nyata semakin hebat aja.
    tetap “maksain” ngeblog yaa, ( I bet U will, karena kaw mulai terikat dengan dunia ini kan??
    (sory seharusnya ini ga dibahas disini yaa)
    2: anggota arisan mantan preman
    perhatian ni yee ma regsa (mas liks yang lagi benahin rapelan, alma yang tahlilan… sempetin ngapelin regsa).. terharu aq

  12. 12 Liexs September 4, 2007 pukul 1:02 pm

    2:regsa
    …tapi kalo saya tepatnya bukan anak asuh kali..tapi anak a###
    (AJUR) pagernya tiga lho bukan dua. kekekeke

  13. 13 Liexs September 4, 2007 pukul 1:05 pm

    2:may
    “(mas liks yang lagi benahin rapelan, alma yang tahlilan… sempetin ngapelin regsa).. ”
    Iya neh may…soalnya mau ngapeli May takut dikrawu sambel sama May. kekekekeke

  14. 14 regsa September 4, 2007 pukul 2:39 pm

    # bang Toga
    Postingan ini ditujukan pada diri saya pribadi, begitu banyak diri ini kurang bersyukur . Dan begitu mudahnya menghaburkan uang untuk sesuatu yg tak berarti sedang diujung jalan lain begitu susahya Ubit ini mencari sedikit uang untuk makan, dan tercabut masa untuk bermain karena dituntut untuk kerja…
    Makasih lho kedatangannya..sering2 ya jangan lupa bawa minum.. :)

    # May
    alah may aku ngak sehebat yg kamu kira… :)
    ssstttt untuk yang itu kita lanjutin di kantin depan sekolah…kakaka
    Betul mereka(mas lieks n alma) sangat perhatian..jadi ihik..ihik
    *kecrotin mata pake bawang*

    # mas Liex
    Terima kasih pembetulannya
    Lahh masih ngarep thooo…lakk ibuke bocah2 py? kakakaka

  15. 15 almascatie September 4, 2007 pukul 2:45 pm

    ehm *serius mode on*
    btw sayah suka percakapannya sama anak kecil.. jadi ingat pengalaman ngamen sayah dulu
    *mode off*
    *scrolll baca comment2 orang2 gila dulu ah*

  16. 16 almascatie September 4, 2007 pukul 2:50 pm

    2: regsa & Liexs
    sayah bener2 tahlil tapi sambil ngintip blog gitu lho… tapi karena tahlilnya lamah jadi sayah ngantuk gitu sodara-sodara cerita aslinya :D

    2: may
    ada apa dengan may? tumben OOT :D
    *tendang ibu PKK * premannya pada insap deket ramadhan bu
    :p

    Iya neh may…soalnya mau ngapeli May takut dikrawu sambel sama May. kekekekeke

    anda bener sekali mas.. tumben anda bisa cerdas wakakkakkakaka
    *kaburr*

    2: Regsa sok imut

    Betul mereka(mas lieks n alma) sangat perhatian..jadi ihik..ihik

    othok…othok…othok…othok…… :D

  17. 17 regsa September 4, 2007 pukul 3:09 pm

    # alma
    yahhh begitulah anak2 itu ngak seharusnya dijalanan ..

    Ikut tahlilan bener????? ngak terasa terbakar badanmu…wakakakakak
    Sayapun hendak bertanya ke may…tapi biar kamu duluan lah..
    *hadang kabur…eit..eit..eit*
    hussss kuwalat…sungkem sana !!!!!

    Laah saya ini memang baru masa pertumbuhan dan lucu2nya…makaciiihhhh

  18. 19 almascatie September 4, 2007 pukul 3:44 pm

    Heran..bocah kecil itu mungkin juga belajar gimana membuat pikirannya menjadi dewasa melampui umur jasadnya …

    kehidupan mengajarkan lebih banyak dari pada sekolah, itu yg saya tau sih…
    emhhh jadi ingat “semua tempat itu sekolah semua kawan adalah guru” punya Roem P.
    :mrgreen:

  19. 20 regsa September 4, 2007 pukul 4:01 pm

    #Tiar
    Laah duitku cuman cukup untuk ongkos taksi je….dan mungkin perlu tindakan lebih dari itu…moga kelak aku bisa…

    #Almas
    *terlonjak dari kursi…PINTERRRRR sampeyan lho*
    Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kehidupan alam sekitar .
    Dan bagiku kamu bukan sekedar guru tapi Kepala sekolah…. :)

  20. 21 almascatie September 4, 2007 pukul 4:13 pm

    stttt regsa jangan berisik.. jam segini kepintaranku naek 3 quarts… :lol:
    siyap pak penilik!!!
    *ganti peran tah iki rek.. sandiwara radione wes bubar tah??*
    :mrgreen:

  21. 22 cah cilik September 4, 2007 pukul 6:34 pm

    “..jiwa ini kok tersobek-sobek jadinya . Jadi ingat keponakan saya yang seumuran bocah itu..” Kok bukan “jadi teringat si kecil dirumah..” si kecil belum seumuran dia ya Om :D :D :P

  22. 23 almascatie September 5, 2007 pukul 5:45 am

    regsa.. blogmu kok tampilanne aneh ngene yo!
    koyo ada gambar2 templet neng tiap comment

  23. 24 fetro September 5, 2007 pukul 5:51 am

    saya suka dengan anak kecil yang mandiri dan memiliki harga diri tinggi dengan jualan koran seperti itu.

    Aku punya pengalaman pribadi yang aneh, waktu makan di angkringan simpang lima Semarang (bukan angkringan senyum lhooo), anak kecil ngemis yang katanya belum makan seharian nggak mau saya ajak makan sepuasnya, dianya lebih suka ama duit 500 rupiah. Jadi bingung..!

    kisahnya bagus mas.

  24. 25 akses internet gi kembang kempis September 5, 2007 pukul 8:06 am

    2: alma
    mang lg lemot
    mode OOT paling aman digunakan :-P
    (regsa, lainkali klu balas msg offline, diliat dulu yan kemarennnya.. jadi aga nyambung gt)
    susah bgt menyambung silaturahmi dengan perbedaan jam tayang begini.. uhhh
    2: anggota arisan mantan preman
    pada tobat semuanya..?? amiiiiin

  25. 26 akses internet gi kembang kempis September 5, 2007 pukul 8:08 am

    sumpriiit.. koment ku di banned
    gery,…. biji mana ini..

  26. 27 regsa September 5, 2007 pukul 8:18 am

    # Almas *kapok nyingkat ma lagi*
    Sandiwara masih diulur2 ceritane wong rating tinggi je…

    # Cah cilik
    Umur saya baru 18 tahun jalan 2 bulan..banyak sih anak tapi belum terbuahi dengan sempurna…wakakaka

    #Almas .
    Mosok sih mas, dari monitorku ndak je . Ada 2 kemungkinan monitornya situ rusak lagi, kedua itu cuman perasaan almas aja…. wakakakak
    Walo begitu beribu terima kasih atas perhatiannya ..

  27. 28 almascatie September 5, 2007 pukul 8:37 am

    reg… heheheh dikaw browser pake apan.. coba pake opera…. lucu dah..
    atawa pengen liat scrinsyutnya?? :mrgreen:

  28. 29 Regsa September 5, 2007 pukul 9:52 am

    # Almas
    Alm..aku pake FireFOX.. :) ….Mungkin juga karena Opera itu. wahh kudu donlot sek ki…scrinsutnya aja boleh……

    Senk su verymuch

  29. 30 regsa September 5, 2007 pukul 1:18 pm

    Sorry njawab komene morat-marit
    #Fetro
    Betul mas salut untuk mereka2 itu .
    Pengalamannya, begitulah kelucuan anak kecil.
    Simpang lima..jadi keinget nasi trancam pojokan ngon pojokan kae lho mas…

    # May…kaciiiian deh looo
    Offline msgnya di print out ato lebih sangar neh dijadiin wallpaper compie..kekekeke
    Perbedaanya itu yg malah jadi unik…. :)
    Tobat ????? Almas tuh suruh cepet2 minum tobat, biar cepet sembuh….

    System diBlog saya memBanned nama2 yang sekiranya aneh . Dan itu sebenarnya biar saya ada fungsinya untuk memoderasikan ..
    ngak tahu bijinya gery ..entah kemana2..

  30. 31 Reggae The Gimbalz September 5, 2007 pukul 4:14 pm

    Saya kagum ke Che sama seperti kegaguman saya terhadap Bob Marley, mereka ini sama- sama menghantam tirani penindasan dengan cara masing-masing, yang satu lewat syair-syair reggae musiknya dan satunya lagi lewat perjuangan revolusioner.

    Che meninggalkan bau mesiu dan bau amis darah, Bob Marley meninggalkan kedamaian “dansa reggae”.

  31. 32 regsa September 5, 2007 pukul 4:23 pm

    #Reggae The Gimbalz
    Betul Brother, makanya saya sebut dengan cara masing-masing .
    JAH BLESS

  32. 33 Liexs September 5, 2007 pukul 5:13 pm

    2:almas
    Yang lebih aneh, koment-nya nggak pada nyambung sama judul postingannya. wakakakaka

  33. 34 regsa September 5, 2007 pukul 5:26 pm

    # Mas liexs
    Aku dewe juga terherankan…tapi blogku ini sengaja ngo wadah saudara2 untuk ber OOT ria..lah wong postingannya juga OOT… :)

    Raak yoo ngono tho Alm (singkatane medheni…)

  34. 35 almascatie September 5, 2007 pukul 5:35 pm

    @reggae The Gimbalz

    Che meninggalkan bau mesiu dan bau amis darah, Bob Marley meninggalkan kedamaian “dansa reggae”.

    Amis darah dan mesiu yah.. kok sinis sekali yah sayah menangkapnya… :)
    dalam medan perang yg berbeda maka jejak yg ditinggalkan pun berbeda walau tujuan yg ingin dicapai mungkin mirip… Revolusi-nya Ernesto sampai skarang tetap dipuja seperti dipujanya Reggae-nya Marley, maaf mungkin kalo sayah salah tapi bagi sayah mereka berdua sama2 berjuang untuk “kebebasan” yg diimpikan manusia.. trus apa gunanya kita sinis terhadap kelompok lain jika hanya untuk mengatakan bahwa idola kita adalah yg terbaik, apa kita ga hanya mengurung diri dalam bentuk penjajahan baru yang bernama “pengkultusan”???

  35. 36 regsa September 5, 2007 pukul 6:43 pm

    #Almas N tambahan sedikit tambahan 2 The Gimbalz
    Ini baru comment…
    Betul tiap individu mempunyai cara sendiri-sendiri untuk melakukan perlawanan terhadap penindasan, kesewenang-wenangan .Didiri Mbah bob yang seniman tentunya dia menyuarakan protes, menyerukan sesuatu yang harus dibenarkan dengan cara yang beliau kuasai yaitu dengan bermusik . Sebaliknya juga Si Che (yg bukan Che che kirani) juga merasa bersalah dan merasa tergugah jiwanya ketika melihat disekitarnya mengalami penindasan dan juga kewenang-wenangan tirani penindas . Tentunya cara yang digunakan che ini ada efek buruknya juga …namanya perang .

    Jadi mari di minum kopinya…sambil ndengerin.. ONE LOVE nya Bob marley

  36. 37 almascatie September 5, 2007 pukul 7:43 pm

    #regsa
    Ini baru comment sambil minom kopi trus dengerin One Love Bob Marley apalagi ditambah kepulan asap cerutu Kuba… :)
    yups.. sepakat sayah kalo tiap2 individu mempunya cara sendiri2 dan kadang cara sendiri2 ini mempunyai pengikut :) sampai-sampai si Marley harus ‘mengungsi” dari St. Ann ke Kingston dan berkata…

    “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya”.

    dan che che kirain sapa pun berlari dari Argentina ke Kuba sebuah negara yg bukan bumi pertiwi-nya sambil berucap…

    setiap manusia seharusnya merasakan sakit diwajahnya ketika ada orang lain yang mukanya di tampar”.

    *saya menghormati dan mengagumi mereka berdua yg telah membuat perubahan besar didunia, dari pada sayah yg masih bergulat dengan urusan perut sendiri*

    Tentunya cara yang digunakan che ini ada efek buruknya juga …namanya perang .

    uhmmm mungkin dikit beda yah… setidaknya

    “Sosialisme di Amerika, tulis Jose Carlos Mariategui di 1929, bukannlah sebuah jiplakan, tapi sebuh kreasi yang heroik. Inilah yang dilakukan oleh Che Guevara, yang menolak menjiplak model-model yang ’sudah ada’ dan mencari jalan baru unutk sosialisme, secara lebih radikal, lebih egaliter, lebih bersifat persaudaraan, dan lebih humanis…”

    Setidaknya quote diatas yg dirasakan penghuni Amerika Latin, sapa yg bisa menjamin mereka untuk bisa lepas dari kapitalisme tanpa revolusi? *walau sampai skr mereka tetap berjuang untuk lepas*
    Setiap peristiwa selalu mempunyai efek positif dan negatif…. Jalan Revolusi yg dipegang Che adalah jalan akhir tidak ada Reformasi…. kekerasan tidak selamanya dilawan dengan lagu.. kadang kekerasan ‘harus’ dihadapi dengan kekerasan juga….

    “kip idialisem por moping rialisem”
    :mrgreen:

  37. 38 deKing van deDreef September 5, 2007 pukul 8:32 pm

    Siyal gara2 koneksi wireless hasil curian punya tetangga naik turun akhirnya ketinggalan banyak berita (karena jarang online)

    Mmmmm kalau membaca omongan2 Ubit saya menangkap dia benar2 penganut aliran realis…ya walau dia begitu karena dipaksa oleh keadaan

    Sisanya…speechless

  38. 39 Liexs September 6, 2007 pukul 4:25 am

    Nah itu baru koment yang sinkron, BTW koment ALM koyo postingan.wakakaka ngakak guling-guling,pegang perut.

  39. 40 Reggae The Gimbalz September 6, 2007 pukul 4:41 am

    Loh-loh kok jadi high voltage gini nech…
    I am proud both of them… gw gak skeptis apalagi apriori sama Perjuangan Revolusi-nya Che… ndak Pakde… tenan, bahkan ada quote dari Che yg meresap di hati… (halah)
    ketika Che mau dihukum tembak mati sama tentara Bolivia, sang eksekutor bertanya pada Che.
    Ekseskutor: “apa permintaan terkahir kamu? sebelum aku menembak km?”
    Che: “berikan aku sepiring nasi dan sebatang rokok, bagiku revolusi hanya akan berjalan semestinya ketika rakyat kenyang”

    it is the best quote; bahan refleksi untuk rakyat Indonesia…

    okeh Pakde…. salam damai pakde… peace… minum kopi sambil dengerin Peace with Love-nya Mas Tony Q Rastafara…. SAKPORE.

  40. 41 'K, September 6, 2007 pukul 6:45 am

    panjangan komennya daripada critanya
    btw ini kisah nyatakah??

  41. 42 almascatie September 6, 2007 pukul 6:55 am

    @Liexs
    hahahahahha… asyem mas iki rek.. aku udah usaha serius sampe kepalaku mo botak ini hahaha :p *sekali2 komen serius*

    @Reggae The Gimbalz
    halah mas.. ga high poltage kok.. cuman high depinition tok *binun mode on*
    salam kenal bro hehehheheh

  42. 44 regsa September 7, 2007 pukul 10:49 am

    # Almas ( komentnya ngalahin postingku.. :) )
    Makasih atas komentnya yang panjang .
    Tetapi sebenernya, postinganku bukan untuk mengulas sosok che maupun bob (seperti saya tulis diawal) . Dan kenapa saya mengenakan kaos yang bergambar Che kepada tokoh (Ubit) di postingan saya . karena apa Ubit, membutuhkan sosok seperti Che, Ubit ini hidup di tengah era keegoisan sak njedote (Payah om, mana ada orang membuka kaca mobilnya untuk membeli koran ditengah hujan sederas ini.” jawabnya acuh tak acuh ), digilas keacuhan pembangunan (Dulu sih iya om, ruli (rumah liar) dibelakang pos Polisi yang sekarang jadi bangunan hotel),Korban dari kesewenang2an pemilik modal (emak sih dulu pernah kerja di Pabrik elektronik jadi operator tapi udah di PHK, kata emak umur emak ngak produktif lagi jadi tenaga emak digantiin tenaga yang lebih muda ), Korban dari sytem yg salah (“dibikin malu Kepala sekolah ngak boleh ikut ujian karena belum bayar SPP, saya cuman bisa baca selebihnya saya dibikin tidak berarti hanya karena saya miskin”)
    Ubit sudah sangat marah, sampai ia marah pada nasib dan juga takdir (Hujan kali inipun sudah membuatnya sedikit marah ).

    Ubit pengen melihat orang mempunyai semangat dan jiwa humanis seperti yang dimiliki che .

    Mengenai che che kirani…..pas tengah nulis kok inget mantan pacar..wakakaka

    Jadi ambil gitarmu kita ke Pantai nyanyikan Three little birdsnya Bob marley .

    # The Gimbalzs .
    High Voltage ?…cuman persaan Abang saja…kakaka
    Beneeerrrr…sosok seperti itu yang dibutuhkan UBiT
    Mari bersulang man …

    #K
    Hhehe..saya sendiri juga binung … :)

    # Deking
    Mereka banyak disekitar kita mas…..nek diLOndo py?

    # Lieks mas
    Dah sembuh po kakinya kok dah guling2… :)

    # May…genset lagi ???
    Kalo begitu idolakan saya saja …. wakaka..gek sopo aku ki….haha

  43. 45 almascatie September 7, 2007 pukul 12:28 pm

    weh siyal..
    tampilanmu ini mengganggu sekali reg..
    bener2 ga bisa menikmati sayah bacanya..
    ada yang bernasib seperti sayah kah?
    :(

  44. 46 regsa September 7, 2007 pukul 12:48 pm

    * almas
    solusine kumahak atuh ?…aku browse pake IE. FireFox n Safari….ndak masalah ki.
    Py..py…wong aku ra ngutek2 template siBen .
    sorry lhooo

  45. 47 Liexs September 8, 2007 pukul 4:06 am

    Bocah kecil itu nggak pergi-pergi.

  46. 48 almascatie September 8, 2007 pukul 9:15 am

    @regsa
    aku ra baca commentmu yang panjang jga itu lho diatas hahahhahaha
    lha tenan iki reg.. pake pirepox yo tetep wae… aku pinda kompi tetep wae
    emang ga jdoh kita hahahahha *lirik may sama liks* :lol:
    oh iya.. umhhh emang postingmu ga mengenai che kok… aku cuman ngikuti si gimbal doang hehehehehhe emang dah OOT bener sih..
    :lol:

  47. 49 regsa September 8, 2007 pukul 1:36 pm

    # Lieks Mas
    Lah belum ketemu sama orang yg diinginkan..ketemu malah dengan saya…cuman nambah masalah…kakaka

    # Almas
    Mosok sih…itu masih untung juga lho kam bisa masih dilihat ..bayangin aja berapa ratus km jarak kita..waklak..klak.

    Malah itu yang bikin rame .


  1. 1 Jamuan Makan « uphak-uphuk Lacak balik pada November 21, 2008 pukul 12:20 am

Tinggalkan Balasan