
Arsip untuk April, 2008
Hari sudah beranjak gelap, seperti biasa aku baru pulang dari kerja . Wajah kusam, lesu dan bau keringat begitulah keseharianku bila hari baru saja disapa malam . Tapi hari ini kuniatkan tidak terus langsung pulang seperti biasa yang aku lakukan . Ada rencana yang telah kuukir sejak sebelum aku tidur kemaren malam (eh jam 02.30 itu malam ato pagi ?), rencana untuk mengunjungi sebuah ruang dipinggir jalan, dibawah pohon beringin besar .
Dan kini tibalah saatnya aku mengunjungi ruangan itu, sebuah ruang yang tidak begitu besar dengan lampu benderang, ditunggui seorang laki-laki berpakaian hitam ,sebuah kursi besi yang sudah sobek-sobek kulit busanya dan sebuah meja yang penuh alat-alat tajam . Lalu akupun duduk disitu, seperti pesakitan yang sedang menunggu sidang berakhir, pasrah kusandarkan punggung . selanjutnya ada sedikit lagi

Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah .(Che Guevara)
Akhirnya masa itu datang juga setelah keterdiaman kami hanya dianggap seperti kerbau tolol yang tidak tahu apapun . Keterdiaman yang telah mengerucut membentuk emosi, menegangkan segenap simpul syaraf lalu mengajak kami untuk bereaksi . Satu kata Lawan
Sebenarnya niat hati ingin sekali menabung, tapi apa daya duit habis akhirnya dengan terpaksa menguras lagi duit ditabungan . Dan malam ini, sepulang kerja mampir di ATM disebuah mall kecil sekitar 15 km dari tempat saya kerja dan kurang lebih 8 km dari tempat saya tinggal .
Antrian begitu panjang, andai uang ndak begitu penting bagi kehidupan tentu ndak banyak orang antri hanya untuk mengambil uang . Seperti kebanyakan orang saya juga benci dengan yang namanya antri, ilmu kesabaranku belum mencapai tingkat tinggi, jadi saya begitu jengah bila harus mengantri . Tapi mau gimana lagi sabar dan ndak sabar sesuatu yang kubenci itu harus kulakukan . Berdiri berderet dibelakang eh.. satu, dua, lima belas orang, antrian yang panjang bukan ?
Terlepas dari ketidak sabaran dan benci antri, saya suka mengamati orang, tingkah laku maupun gerak-geriknya,sesuatu yang menarik karena tiap orang mempunyai ciri unik yang berbeda satu dengan yang lainnya . Dan kali ini korban pengamatanku adalah seorang gadis yang berdiri selisih satu orang didepanku . Perempuan berumur sekitar 20an tahun ( seumuranku
) . dilanjut
Domblang-domblongnya bocah hitam, dekil dalam melihat hingar bingarnya dunia yang dituangkan dalam bentuk tulisan kecil eh pendek .

Uphuk-an Kawan