Circumcision bahasa ngaya dari khitan ato kadang juga disebut sunat yaitu tindakan ngukir memotong sebagian atau menghilangkan seluruh kulit penutup penis . Tindakan ini biasa dilakukan ketika anak masih kecil, logikanya pada masa ini dagingnya masih lembut dan karena masih dalam proses pertumbuhan jadi diharapkan lebih cepat sembuh . Tapi tak ada yang ngelarang orang yang sudah dewasa untuk dikhitan, tapi saya kira kasian dokter yang akan menyunatnya, harus mengeluarkan banyak tenaga untuk mengiris daging yang sudah sedemikian ulet bin alot .
apakah saya mau sunat lagi ?
Arsip untuk Juni, 2008
Pak Tani apa kabarmu ? Lama kita tidak bertemu, berapa tahun ya? 10, 15 ato mungkin juga sudah 20 tahun . Kapan tepatnya kita bertemu pun aku lupa, yang kuingat hanyalah saat itu saya duduk dipematang sawah yang sedang kau garap. Ya betul saat itu kamu sedang menikmati hasil kerja kerasmu, padi subur yang mulai menguning terbentang.Yang mungkin dengan hitungan hari padi itu sudah siap dipanen .
Pak tani, bukannya aku melupakanmu . Saya selalu ingat, kala itu aku selalu menyambangimu tiap sore hari . Aku begitu ingat aroma tembakau semprul yang menyembur saat kamu membanggakan suburnya tanah yang kau garap . Aku juga masih terngiang saat kamu bersandung syair Maskumambang ato Megatruh sambil mengusir burung-burung yang mengganggu tanamanmu . Dan saat pulang sambil memikul cangkul, kau gandeng tangan kecilku, sambil kau dongengkan aku tentang Dewi Sri, Sang Dewi kesuburan yang begitu murah hati memberikan kesuburan ditanah kampung yang begitu kau cintai . Ada selanjutnya
Berlayarlah dilautan airmata kami, tertawalah dilautan airmata kami, berselancarlah dilautan airmata kami, berpesiarlah dilautan airmata kami (lautan tangisnya Sujiwo Tejo)
Hanya sebuah tipi yang kami punyai, tipi ukuran 17 inchi dan hitam putih . Tipi itu merupakan kesayangan simbok yang setia menemani hari-hari tuanya, yang mengabarkan kepada simbok tentang apa-apa yang terjadi dinegeri ini . Gambarnya kabur ndak jelas babar blas,suaranya kemrosok tiada tara walo begitu simbok begitu enjoy melihat segala apa yang tersaji ditipi itu .
Pernah suatu ketika saya menawarkan kepadanya untuk mengganti tipi itu dengan yang berwarna, tapi simbok menolak dengan tegas,
“Ndak usah le, simbok takut melihat tipi yang ada warnanya, simbok takut ngeliat merahnya darah, simbok ngeri ngeliat warna merah api . Dan biarkan saja gambarnya kabur karena simbok tak ingin melihat dengan jelas para manusia saling hajar, memukul dan membantai . Mengenai suara kumrosok itu juga tidak mengapa, memang tidak ada yang perlu didengarkan dengan seksama, hanya ocehan tak bermakna dan juga pembelaan dan pembenaran diri . Wis simpan saja uangmu daripada kau belikan tipi berwarna untuk simbok .”
Tapi akhir-akhir ini ndak pernah kudapati simbok duduk didepan tipi itu lagi . Tipi itu ndak pernah disetel dan hanya tertutup kain potongan spanduk iklan rokok . Saya jadi penasaran, lalu kutanyakan kenapa simbok ndak suka lagi nonton tipi .
“Ndak ada kabar yang yang pantas diketahui, le .” Jawab simbok singkat sambil meniup canting batiknya .
Domblang-domblongnya bocah hitam, dekil dalam melihat hingar bingarnya dunia yang dituangkan dalam bentuk tulisan kecil eh pendek .

Uphuk-an Kawan