Arsip untuk November, 2008

Safety First

dsc00452

Papan tulisan untuk mengutamakan keselamatan kerja (seperti gambar diatas) terpasang ditiap ujung workshop tempat saya mburuh . Dipintu masukpun terpampang dengan jelas aturan-aturan yang mewajibkan memakai alat-alat keselamatan kerja bila mau memasuki area workshop .

Helm,sepatu boat,kaca mata, kaos tangan,tutup telinga dan masker hidung merupakan piranti-piranti yang harus digunakan bila memasuki area kerja . Tapi hanya karena alasan ribet banyak yang tidak menggunakan alat pelindung diri ini ato dengan kata laen mengenyampingkan keselamatan kerja .

Pun begitu juga dengan saya dulu, kesadaran untuk menggunakan alat pelindung kerja tidak ada sama sekali . Sampai suatu ketika ada kejadian-kejadian yang membuat saya sadar betapa pentingnya memakai alat-alat pelindung diri ini . Lanjutkan membaca ‘Safety First’

Jamuan Makan

Malam ini adalah malam yang istimewa karena bisa makan bareng seorang calon pemimpin masa depan negeri ini . Dia bukanlah seorang tokoh masyarakat, bukan pula seorang petinggi sebuah partai besar yang bendera-benderanya berkibar semrawut ditaman-taman pinggir jalan . Dia adalah bocah kecil penjual koran yang biasa menjajakan dagangannya dilampu merah depan Gelael Palm Spring . Bocah kecil itu, sebut saja Ubit minta ijin mbonceng ampe Simpang Franky . Seperti biasa sehabis kerja saya selalu mengisi perut saya dulu, dan kupikir apa salahnya untuk sekalian mengajak dia untuk makan .

Ditengah kecipak mulut yang mengunyah nasi, bocah kelas 6 SD ini bercerita tentang banyak hal. Tentang untung 450 rupiah setiap lembar koran yang sanggup dia jual dan biasanya pas ramai ia bisa menjual 20 lembar koran, selain 10 pelanggan tetap disekitar rumahnya, dikampung tua Tanjung Uma . Tak ada yang memaksa atau menyuruh dia untuk menjadi penjual koran,semata-mata hanya kasihan terhadap Bapaknya yang berprofesi sebagai buruh bangunan dan mempunyai lima anak yang masih kecil-kecil. ” Kalo saya ngak jualan koran, saya ngak bisa sekolah, om,” ucapnya . Lanjutkan membaca ‘Jamuan Makan’

Wangsit Regso

Silo hing hening

tanpo pangucap, nyemelehke pikir

peteng angin sumilir

tutur ati kan tanpo kinucap, tinoleh

ngonceki wayah kepungkur

sepi tanpo tutur

“Sopo niro saiki sopo ingsun kepungkur ?”

Tratap…

gumebyar ing guyup tetabuhan

——————– Lanjutkan membaca ‘Wangsit Regso’


regsa.wordpress.com

Domblang-domblongnya bocah hitam, dekil dalam melihat hingar bingarnya dunia yang dituangkan dalam bentuk tulisan kecil eh pendek .

Pandemen Reggae Indonesia

Ngumpul ngumpul

Batam Blogger community