Arsip untuk Agustus, 2009

Pelacur Tua dan Doa seorang Bocah

Malam semakin larut, embunpun sudah mulai membasahi rumput taman disudut kota . Seorang pelacur tua nampak duduk dibawah lampu yang sudah meredup sinarnya . Tak ada muram maupun gurat kecapekan nampak diwajahnya, hatinya bersuka cita.Karena saat ini dia telah mampu mengabulkan permintaan anak semata wayangnya, satu baju koko, sarung dan juga peci . Pakaian itu sekarang ada di tas kresek hitam yang terus dipeluknya, ia membayangkan betapa ganteng anaknya saat memakainya, berlarian memakai baju barunya menuju surau untuk sholat terawih dan juga mengaji bersama kawan-kawannya.

Selain itu, satu hal yang membuat dia bahagia adalah ia dapat juga meluluskan permintaan anaknya untuk tidak lagi menjadi pelacur. ” Kenapa bunda jadi pelacur?” pertanyaan yang selalu ditanyakan anaknya saat mau beranjak tidur . Biasanya dia takkan mampu menjawabnya pertanyaan anaknya itu, bibirnya tercekat dan ada air mata yang mulai turun dari sudut matanya . “Aku pengin bunda ngak melacur lagi ?” ucap bocah kecil itu sambil memeluk ibunya karena pertanyaannya tidak pernah terjawab. Hari ini pelacur tua bertekat dengan sekuat hati untuk tidak kembali ke taman sudut kota itu lagi . Ia akan menghabiskan masa tuanya untuk mengantar anaknya pergi mengaji.

5 km dari taman kota tempat pelacur melamun, disebuah rumah yang sangat sederhana . Seorang bocah umur 10 tahunan, duduk kusyuk diatas sajadah yang mulai memudar warnanya . Matanya terpejam,mulutnya melafalkan doa  ” Gusti.. aku pengin bundaku ngak melacur lagi, kabulkan ya Gusti “. Doa itu dibaca berulang-ulang sambil menunggu ibunya pulang.

1 km dari rumah tempat bocah duduk berdoa, diujung gang depan kantor bupati. Puluhan orang berkumpul melihat mayat yang tergeletak dipinggir jalan, tubuhnya penuh bercak darah .Mati karena korban tabrak lari . Dipelukannya nampak tas kresek berisi baju koko, sarung dan peci.

—————————————————-

MARHABAN YA RAMADHAN

Selamat berpuasa. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari pada masa yang telah lalu

Ning

galauNing namanya, kukenal saat ada pagelaran wayang kulit dipendopo kelurahan beberapa tahun yang lalu.Pertemuan terakhir lebaran kemarin dikuburan pinggir kampung, saya nyekar simbah, siNing nyekar mendiang bapaknya . Sehabis itu kita ndak pernah ketemu lagi karena sibuk dengan kegiatan masing-masing, saya kembali ke kota dan siNing sibuk ngajar di SD inpres dikaki gunung.

Kemarin sore jam 6.30 saat saya menikmati kopi sepat yang kurang gula, diatas lincak yang berderit-derit tiap badanku bergerak . Telpon saya bergetar mengabarkan bahwa ada panggilan masuk, nama Ning nampak dilayar . Tak biasa-biasanya dia menghubungiku batin saya .Dan suaranya kali ini berat serak tidak seperti biasa .

Lalu diapun bercerita tentang apa-apa yang hendak dicerita, diselingi aduh mengaduh karena dihimpit persoalan yang susah dipecah ucapnya . He-eh.. iya..terus… ucapku untuk memastikankepadanya bahwa obrolan jarak jauh ini tidak terputus . Ning kembali meneruskan keluh kesah dan kali ini ada isak ditengah-tengahnya. Sontoloyo saya ndak bisa liat orang menangis, aku tercekat, dahiku mengkerut bukan karena ampas kopi yang ikut terminum dan meninggalkan bekas hitam digigiku yang memang sudah hitam dilabur nikotin.Aku tergagu karena ndak bisa bilang apa-apa, lah aku bukan ahli psikologi ataupun ahli jiwa yang bisa membaca persoalan dan memberikan jawaban persoalan itu secara ndakik nan bijaksini . Lanjutkan membaca ‘Ning’

Merdeka

merdeka

>> semua gambar diambil dari deviantart.com dengan kata kunci merah putih


regsa.wordpress.com

Domblang-domblongnya bocah hitam, dekil dalam melihat hingar bingarnya dunia yang dituangkan dalam bentuk tulisan kecil eh pendek .

Pandemen Reggae Indonesia

Ngumpul ngumpul

Batam Blogger community