Beranda > Cerita sekenanya > Pengadilan (pagelaran) Gemes

Pengadilan (pagelaran) Gemes

Pengadilan terbuka yang diprakarsai oleh penduduk sebuah negeri yang telah sekian lama dibikin bingung oleh proses peradilan para pelaku konsipirasi,korupsi. Jenuh melepuh karena melihat proses yang memakan waktu yang panjang tapi pada akhirnya kasusnya malah mlungkret dan ruwet.

Pengadilan yang biasa digelar ditanah lapang dikaki bukit yang pohon-pohonnya kering meranggas . Tapi pengadilan ini sangat jauh beda dengan pengadilan-pengadilan seperti yang ditipi-tipi itu . Kalo yang ditipi selalu ada hakim, jaksa dan pengacara yang berwajah kaku nan serius, kalo pengadilan ini tidak ada. Disini juga tidak menggunakan pasal-pasal kitab undang-undang sebagai dakwaan, mengingat pasal-pasal itu masih bisa dicari-cari celahnya untuk bisa meloloskan diri.

Perangkat gamelan berjajar rapi disediakan lengkap dengan penabuh dan sinden, penyanyi wanita yang berdandan sedhet mantab . STOPPP… Ini pengadilan atao pagelaran tayub dalam pesta kawin massal ?!! Sudah dibilang pengadilan ini laen kok ya masih iyik, crigis.Gamelan ini disediakan untuk mengiringi lelagon atau lagu, dengan mendengarkan lagu hati para terdakwa yang sudah bebal bisa lunak, jiwa dan rasa terdakwa juga diharapkan bisa empuk ginuk-ginuk lagi. Dengan begitu para terdakwa dapat legowo mengakui segala kesalahannya, bercerita dengan runtut tanpa tedeng aling siapa teman kong kalikongnya .

Dengar..dengar itu suara kenes sinden sudah menyanyi mengawali proses pengadilan kali ini.

Tak jiwiti tak slentiki saking gemesku

Kowe panggah ora ngaku

Nganti drijiku keju, nganti teng plirak kukuku

Ngonceki pakartimu kuwi kowe kok yo njur kebacut

BLOKO SUTO..BLOKO SUTO, kudu biso bloko suto

Demen listantun pandonganing liyan

Tangeh lamun kowe bisa ngonceki wohing pakarti

Ngonceki pakartimu kuwi, kowe kok yo njur kebajut *)

(Aku cubiti, aku sentil kupingmu karena saking gemasnya aku,tetapi kamu masih tidak mengaku.Jari jemariku sampai ngilu, kuku-kukuku sampai tergores-gores. Melihat budi pekertimu, kok ya kamu sangat keterlaluan. JUJUR KAMU HARUS JUJUR. Tidak mungkin kamu bisa mengupas budi pekertimu, kamu kok malah semakin menjadi-jadi)

Lalu gimana akhir dari pengadilan itu ? Maaf saya tadi tertidur karena mendengan lelagu itu . Tapi kata orang-orang yang menonton sampai akhir. Si terdakwa masih belum ngaku walo sudah dicubiti berjam-jam lamanya dan rencananya sidangnya akan dilanjut pekan depan.

 

*)Blak-blakan Sujiwo Tejo album Pada Suatu Ketika



 

 

 

Categories: Cerita sekenanya
  1. Bapaknya Tam-Tam
    Desember 3, 2009 pada 12:22 am | #1

    P E R T A M A X !!!!!

  2. Bapaknya Tam-Tam
    Desember 3, 2009 pada 12:22 am | #2

    K E D U A X !!!!

  3. Bapaknya Tam-Tam
    Desember 3, 2009 pada 12:23 am | #3

    K E T I G A X !!!!

  4. Bapaknya Tam-Tam
    Desember 3, 2009 pada 12:24 am | #4

    nITIP LAPAK gAN

  5. Bapaknya Tam-Tam
    Desember 3, 2009 pada 12:25 am | #5
  6. Desember 8, 2009 pada 7:52 pm | #7

    Begitulah negara kita :D hehehehe….

  7. Desember 13, 2009 pada 8:16 am | #8

    Ada typonya :mrgeen:
    Nggak bakal ngaku kalo cuman diicubitin Oom. Sujiwo Tedjo ini udah punya dotkom sendiri ya ternyata.

  8. Desember 14, 2009 pada 7:49 pm | #9

    artinya apa mas yg bahasa jawa itu? kurang mengerti nih, hehehe… maklum bahasa jawa campur aduk sih, hehehe… mampir balik yah…

  9. September 12, 2011 pada 1:25 pm | #10

    . terimakasih iia atas info nya .

    . sallam kenall

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.