Perjalanan 2 #Petan

Peribahasa Jawa mengatakan “luwih gambang metani uwong daripada metani awakke dewe” kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia kurang lebihnya adalah lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada kesalahan diri sendiri. Petan sendiri dalam bahasa Jawa mempunyai arti mencari kutu rambut, biasa dilakukan oleh orang lain bukan diri sendiri. Kalau mencari kutu rambut yang dilakukan diri sendiri orang Jawa menyebut didis.

Disini saya tidak mau metani orang lain atau nggosip tentang orang lain tetapi akan mulai metani diri sendiri,hal-hal yang sekiranya ruwet akan diambil-ambil satu persatu biar terurai. Banyak kutu-kutu masa lalu yang masih jadi biang gatal hingga sekarang haruslah diambil,dipithesi biar tidak beranak pinak. Dan seperti disebut diatas hal ini tidaklah mudah karena sifat ego kita kadang kutu bukanlah dianggap kutu atau sikap kita akan selalu mencari pembenaran kenapa kutu masih tetap kita pelihara.

Lebih gamblangnya lagi kutu itu adalah hal buruk didiri saya,banyak dan teramat banyak kalau dituliskan satu persatu. Kadang karena sudah bertahun ngendon didalam diri hal buruk itu berubah menjadi karakter atau watak. Untuk menutupi segala keburukan itu kita cari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan. Lebih parahnya lagi segala kebusukan itu akan menghitamkan hati mengeruhkan pikir. Kurang lebihnya diri ini seperti itu.

Saya tidak mau kutu-kutu terus menggerotiku, perlu kesadaran,perlu tindakan untuk menghapus semuanya. Apakah bisa? Bukanlah manusia letaknya salah dan dosa? Harus bisa kalau terbesit kalimat itu berarti menyerah dan lagi-lagi mencari pembenaran atas segala kebusukan. Butuh niat dan mental yang kuat untuk mengubah yang buruk menjadi baik dan saya sadar itu tidak akan nyaman, benturan-benturan keras pasti akan menghadang.

‘Jangan pedulikan pandangan orang-orang kalau kamu terus memikirkan apa yang menjadi sudut pandang orang kamu tidak akan bergerak, selama yang berkata adalah benar-benar hatimu maka lakukanlah’ nasihat ini kudapat dari orang tua yang menemuiku dipinggir kampung saat aku sedang petan diujung malam yang sunyi.

Iklan

Perjalanan 1 #Ilir-Ilir

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir, tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane
Sun suraka surak hiyo

Tembang klasik lirih terdengar dari radio dipojokan kamar. Tembang jawa gubahan Kanjeng Sunan Kalijaga mendayu-dayu memenuhi ruang saat langit sore habis tersapu malam. Tembang ini pertama kukenal dari senandung Simbah saat menumbuk padi ditepi kandang,berpuluh-puluh tahun lalu saat aku masih kecil hidup dikampung halaman.

Tembang ini syarat akan makna tapi aku tidak akan mencoba menafsirkannya dengan kata biarlah rasa saja yang memaknainya. Karena kata-kata akan gampang terhapus dan kata-kata akan mudah teringkari. Aku tenggelam dalam lantunan Ilir-Ilir dipojok kamar saat sore habis tersapu malam.

Kembali ke tepi kandang saat simbah menumbuk padi, waktu aku masih kecil dikampung halaman, sedini itu aku sudah diingatkan untuk dondomana jrumatane kanggo seba mengko sore dan aku lalai padahal padang rembulan dan jembar kalangan sudah sekian lama diberi. Harus disadari rembulan tidak akan terus bersinar dan ruang waktu tidak akan selamanya luas dan aku tidak boleh melewatkan kesempatan itu lagi.

Mulai kukemas bekal perjalanan tidak banyak karena memang akupun tidak punya banyak. Di terminal-terminal kelak akan kucari bekal untuk menuju terminal pemberhentian selanjutnya,begitu seterusnya karena perjalan ini akan panjang.

Tahun Politik

img_660_442_jokowi-pra_1535541491bowoDari kota sampai pelosok desa saat ini banyak terpasang bendera partai,baleho caleg dan spanduk capres. Ada yang dipasang secara rapi adapula yang ditancapkan secara asal-asalan bahkan banyak yang tumbang berserak terkena angin. Spanduk dan baleho desainnya monoton serampangan. Apakah segala atribut kampanye tersebut membuat daerah kita semarak,indah warna-warni ? Jawaban saya tidak, kampung saya malah jadiĀ  terkesan kotor semrawut. Saya juga tidak bisa merekam dipikiran nama caleg-caleg yang tergambar dispanduk.

Beralih ke media masa baik televisi maupun surat kabar, saya belum mendapati program-program yang mereka tawarkan yang bisa membuat saya menjatuhkan pilihan. Di media tersebut malah dipertotonkan bagiamana cara memaki, membodoh-bodohkan dan berbagai macam kebohongan untuk saling menjatuhkan. Bagaimana kami yang awam ini bisa dewasa berdemokrasi kalau kaum diatas sana hanya mempertontonkan hal-hal yang demikian. Ajari kami berpolitik yang santun, pertontonkan peperangan adu argumentasi tanpa emosi. Baca lebih lanjut

Ibu Pergi

img-20180801-wa0017Pukul : 21.30 WIB

Tanggal : 24 Juli 2018

Ada telpon dari adik : Mas, ibuk meninggal.

Aku tercekat diam,duduk diujung kasur berkali-kali kuucap istighfar.Antara lemas, bingung campur aduk jadi satu,harus segara pulang . Setelah sekian menit aku beranjak mengambil jaket,menitipkan laptop dan setumpuk pekerjaan kantor ke satpam untuk diserahkan ke teman (saat itu aku sedang lembur). Setelah itu kugeber mobil,sendirian,pikiranku kosong,rokok selalu kusulut aku kalut.

Setelah pintu keluar tol Salatiga aku baru sadar betapa bahaya menyetir mobil dalam keadaan seperti itu dan baru ingat kenapa aku tidak mengajak barang kakak dan adik ipar. Aku tepikan mobil,aku telpon sepupu yang tinggal di Solo untuk kuajak bareng pulang ke Wonogiri. Baca lebih lanjut