1914

Giriwoyo sebuah dusun dipinggir hutan, dibawah gunung, pagi itu dipecahkan suara tangis dari jabang bayi laki-laki montok, gemuk sedikit hitam . Bayi yang merupakan anak pertama dari keluarga petani kecil . Pasangan suami istri menyambut kedatangan bayi pertamanya dengan tangis kebahagian . Tangis sebagai bentuk suka cita atas buah cinta mereka .

Tahunpun beranjak, bayi kecil itu berubah menjadi seorang bocah. Bocah yang akrab dengan sungai, dengan hutan maupun gunung . Maklum jaman itu belon ada Play Station apalagi Internet . Kesehariannya dihabiskan menggembalakan dan mencarikan rumput untuk ternaknya, membantu bapaknya kesawah, ketepi hutan mencari ranting kecil untuk emaknya memasak, selepas itu dia akan mandi disungai bersama kawan-kawannya ato mencari jangkrik dipematang sawah .

Dia ngak mengenal sekolah, karena kala itu kesadaran akan pendidikan masih begitu minim ditambah lagi letak sekolah masih teramat jauh dari dusun tempat dia tinggal . Dan sebagai rakyat kecil biasa tentunya agak sulit mendapatkan pendidikan . Bocah itu tumbuh dan berkembang dididik oleh alam dan adat lingkungan .

Pada masa remajanya dia pernah mengalami masa-masa sulit karena penjajahan dan juga kurang pangan . Makan nasi dari gaplek, mengenakan kain dari goni yang berkutu . Dan juga ketakutan karena perang yang bisa terjadi setiap saat .

Beranjak dewasa ia mewarisi bakat dari bapaknya menjadi seorang petani. Menjadi petani yang tekun , ulet dan rajin . Hingga dia dapat menghidupinya dirinya sebagai petani.

Berkat ketekunannya itu, seorang gadis kampung tertarik hati kepadanya. Singkat cerita mereka kemudian berikrar untuk hidup bersama-sama. Kedua pasangan ini dianugrahi 4 anak yang kesemuanya laki-laki, namun yang satu meninggal saat masih kecil .

Dia ngak ingin ketiga anaknya tidak mengecap sekolah seperti dirinya, maka sekuat tenaga dia menyekolahkan anak-anaknya . Dan dia juga ngak ingin anaknya hanya menjadi seorang petani . Dalam hatinya ia berdoa semoga kehidupan anak-anaknya tidak seperti dirinya, dia ingin anak-anaknya lebih dibandingkan dia.

Dihari tuanya dia dapat tersenyum karena segala doanya dikabulkan Gusti . Ia dapat melihat anak-anaknya berhasil mewujudkan segala inginnya . Anak-anak yang dapat menjaga dirinya dihari tuanya .

Bayi kecil mungil yang lahir di tahun 1914 itu adalah Madyakromo kakek saya, saya biasa memanggilnya dengan panggilan Mbah Lanang . Dan pada hari ini telah meninggalkan kami semuanya . Perjalanan panjang selama 94 tahun didunia telah beliau tuntaskan . Dan saya berdoa semoga di Alam kelanggengan beliau mendapatkan tempat disisiNya .

Ger.. ati-ati neng mBatam..” saat saya memeluk tubuh rentanya untuk pamit pergi . Ucapan itu kembali terngiang .

16 thoughts on “1914

  1. Ping-balik: 1914 | Blog Batam Digital Island

  2. ndherek atur belasungkawa, mugi swargi pinaringan kanugrahan saking Gusti, pinaringan papan ingkang sakmestinipun. dhumateng sanak, kulawarga ingkang tinilar mugi tabah, sabar lan tansah pinaringan hikmah saha rahmat saking ingkang maha kuwaos, Amin.

  3. turut berduka cita ya ger.. salut dengan semangat hidup beliau. jadi teringat mbah kung saya almarhum yg kelahiran 1918. jaman dulu orang lebih menghargai dan banyak belajar dari alam yak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s