Semarang Ai Yem Kaming

Saya hidup di Jawa Tengah (bagian ndeso tahun 1990 saja PLN baru masuk) dari mulai orok, ngalamin mimpi basah sampai tubuh ndak pantes lagi make seragam SMA . Walo begitu saya ndak paham sama sekali seluk beluk Ibukota Propinsi Jawa Tengah,Semarang . Sekali-kali pernah maen juga, tapi biasa ndak betah dengan alasan panas, banyak nyamuk dan alasan-lain yang dibuat-buat . Jangan tanya soal Simpang lima , Kota lama ato Tugu muda kayak apa, saya betul-betul ndak tahu persisnya kek gimana.

Tapi nasib menuntun saya untuk hidup di Kota Semarang saat ini . Tepatnya masih sekitar 2 mingguan,  tetep belon tahu arah, masih merasa menghadap selatan kalo shalat:mrgreen: . Karena itu semalam saya sempatkan diri muter-muter kota, menghapal jalan serta daerah . Siapa tahu bisa dapat cem-ceman yang bikin hati semakin betah tinggal di Semarang..halah.

Perjalanan dimulai jam 11.30 malam, dipilih waktu yang sudah larut karena untuk menghindari lalu lintas yang macet dan rasanya udara malem lebih nyaman dibanding siang yang panasnya minta ampun. Tujuan pertama ke monumen  Tugu Muda, sebuah tugu  peringatan pertempuran 5 hari di Semarang ( untuk sejarah lengkapnya silahkan di googling ) . Walo sudah hampir jam 1 malam ternyata suasana disana masih riuh, masih banyak orang yang nongkrong dikawasan monumen. Sebenarnya dari rumah saya berniat untuk memegang tugu itu, tapi niat itu tidak terlaksana laa ternyata diseputaran tugu dikelilingi oleh kolam air😆 . Dari Tugu Muda kita juga dapat melihat kemegahan Gedung Lawang Sewu, tapi sayang saat ini sedang ada proses renovasi bangunan,disekeliling gedung dipagari seng dan yang terlihat hanya bagian atas bangunan. Setelah puas menikmati suasana malam dan kerlip-kerlip lampu di Tugu Muda maka waktunya untuk menuju tujuan berikutnya . Saat pantat menyentuh jok sepeda motor baru keinget, saya tadi belom mengenang jasa-jasa para pejuang yang ikut pertempuran 5 hari, pikiran malah disibukkan pada perempuan manis yang  sedang phota-photo … duhh.

Stang sepeda motor terarah menuju jalan Letjen Suprapto kawasan Kota Lama  . Kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan kuno bergaya Eropa tahun 1700an . Sebagian gedung masih digunakan sebagai perkantoran yang masih terjaga bentuk aslinya . Tepat rasanya mengunjungi kawasan ini pada dini hari, situasi yang mulai sepi menambah keanggunan kota bersejarah ini .Sambil duduk didepan Gereja Blenduk, saya membayangkan menjadi  extrimis di jaman kolonial Belanda:mrgreen: . Sebenarnya saya belom begitu puas menikmati sudut-sudut kawasan Kota Lama, karena perut dan mata ndak mau kompromi maka saya mencukupkan  perjalanan sampai disini .

Baru dua tempat kukunjungi kesimpulan yang kudapat selain panas, banyak nyamuk dan rop (banjir) kota ini juga sangat mengasyikkan. Walo belom betah saya sudah merasa nyaman tinggal di Semarang.

31 thoughts on “Semarang Ai Yem Kaming

  1. semoga betah di tempat baru ya Ger.. ingatlah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.. duh berat amat yak.. hehe.. hmmm.. semarang. jarang sekali saya berkunjung ke sana, tapi minimal udah pernah ke simpang lima deh..😀

  2. Baru dua tempat kukunjungi kesimpulan yang kudapat selain panas, banyak nyamuk dan rop (banjir) kota ini juga sangat mengasyikkan. Walo belom betah saya sudah merasa nyaman tinggal di Semarang.

    Kalo orang baru memang begidu, mesti adaptasi ekstra ketat untuk bertahan.
    Yang sabar ya Mas …
    Salam kenal …🙂

  3. Semarang. Banyak memori di sana. *Walo tak sebanyak memori di kampuang*😀
    KEep Posting!
    ———————-
    memorinya dibagian daerah mana? laah kampuangnya dimana juga? iya berusaha mau rajin posting lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s